Mahar dan Mahram
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Dalam memilih pasangan hidupnya, kebanyakan orang lebih mengedepankan kriteria penampilan fisik dari pada kriteria lainnya. Hal itu menjadi lumrah karena manusia mempunyai kodrat nafsu syahwat yang menilai sesuatu secara dhahir. Itulah kenapa dalam menyebut kriteria seseorang yang hendak dinikahi, Nabi menyebutkan kata “ ma>liha ” pada kriteria pertama dan baru menyebut nasab, keelokan paras, dan terakhir agama. Meskipun pada akhir teks beliau menganjurkan untuk mengedepankan kriteria agama yang kebanyakan orang justru acuh tak acuh, akan tetapi dalam prakteknya saat ini unsur materi yang berupa harta dan paras lebih dipentingkan. Karena lebih mementingkan harta dan paras, tak jarang orang-orang pada saat ini menikah dengan seseorang yang dalam agama dikategorikan sebagai mahram, seperti kerabat dekat dan/tetangga bahkan terkadang pezina atau istri orang yang suaminya mafqud atau wanita sedang dalam masa ‘ iddah . Pa...